Stunting, suatu kondisi di mana anak-anak tidak mencapai potensi tinggi badan mereka secara maksimal karena kekurangan gizi, telah lama menjadi krisis yang diam-diam terjadi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Kotabaru, sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan, angka stunting telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, dengan sekitar 37% anak di bawah lima tahun terkena dampaknya.
Dampak stunting terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak tidak dapat disepelekan. Anak-anak yang mengalami stunting lebih mungkin menderita penyakit kronis, memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah, dan prestasi sekolah yang buruk. Mereka juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung di kemudian hari. Intinya, stunting tidak hanya berdampak pada anak secara individu namun juga mempunyai dampak luas bagi masyarakat dan negara secara keseluruhan.
Salah satu penyebab utama stunting di Kotabaru adalah kurangnya akses terhadap makanan bergizi. Banyak keluarga di kabupaten ini yang kesulitan mendapatkan makanan yang beragam dan seimbang, sehingga menyebabkan anak-anak kekurangan nutrisi penting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, praktik sanitasi dan kebersihan yang buruk juga berkontribusi terhadap prevalensi stunting, karena anak-anak lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan mereka.
Pemerintah Indonesia telah menyadari betapa parahnya krisis stunting dan telah melaksanakan berbagai program dan inisiatif untuk mengatasi masalah ini. Hal ini termasuk Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting, yang bertujuan untuk mengurangi angka stunting sebesar 40% pada tahun 2024 melalui intervensi seperti peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, promosi pemberian ASI, dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi.
Namun, masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengatasi krisis stunting di Kotabaru secara efektif. Intervensi di tingkat masyarakat, seperti mendidik orang tua tentang nutrisi yang tepat dan praktik kebersihan, menyediakan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, dan mempromosikan praktik pertanian yang meningkatkan keanekaragaman pangan, sangat penting dalam mengatasi akar penyebab stunting.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, organisasi nirlaba, dan sektor swasta sangat penting dalam memobilisasi sumber daya dan keahlian untuk memerangi stunting. Dengan bekerja sama, para pemangku kepentingan dapat mengembangkan solusi komprehensif dan berkelanjutan yang akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di Kotabaru.
Kesimpulannya, stunting adalah permasalahan kompleks yang memerlukan pendekatan multi-sisi untuk mengatasinya secara efektif. Dengan meningkatkan kesadaran tentang dampak stunting di Kotabaru dan menerapkan intervensi yang ditargetkan, kami dapat memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk mencapai potensi maksimalnya dan memutus siklus kemiskinan dan gizi buruk di kabupaten tersebut. Inilah saatnya untuk menyoroti krisis yang sunyi ini dan mengambil tindakan untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Kotabaru.
